BurCik: Bubur Ayam Yang Mengubahku

BurCik: Bubur Ayam Yang Mengubahku

Bubur?
Ayam?
Bubur + ayam = blenyek.
Maaf banget buat bubur ayam mania, bukan apa-apa, tapi begitu melihat bubur
ayam otak gue langsung menyamakannya dengan muntahan. Blenyek bervariasi gitu. Ada ayam, ada kacang, kuahnya warna kuning berminyak gitu. Iyuh. 
Itulah
mengapa gue gak terlalu suka bubur ayam.

Tapi, konon katanya, gak suka yang terlalu
berlebihan itu bisa jadi suka. Mentoknya jadi cinta. Mati kan gue kalau jatuh
cinta sama bubur ayam? *ngebayangin*
Nah, pada suatu hari temen ngebolang gue @SiOchoy jauh-jauh dateng dari Bekasi nan macet dan panas membahana lagi ngidam Bubur Ayam Cikini, mau gak mau gue nemenin dia dong. Jadilah kami pergi ke Cikini dengan gegap gempita.

Kala itu, kami masih buta arah dimana lokasi Bubur Ayam Cikini yang terkenal karena film 5cm. Patokan paling jelas adalah deket stasiun Cikini. #yaiyalah

BurCik: Bubur Ayam Yang Mengubahku

Setelah tanya sana sini, kami akhirnya menemukan sebuah warung bubur ayam sederhana tapi ramainya minta ampun. Yakin kalau itu tempatnya, kami memutuskan buat memesan satu bubur ayam dan segera duduk. Masa iya makan sambil berdiri?

BurCik: Bubur Ayam Yang Mengubahku

Semangkok Bubur Ayam Cikini sudah datang!!!

Kelihatannya enak, yes? 

Meskipun laper, tapi gue masih keukeuh sekali gak mau beli bubur itu mengingat gue gak terlalu demen makan bubur ayam dengan alasan yang udah disebutkan di mukkadimah tadi. Tapi ngeliat @SiOchoy makannya lahap banget udah kayak orang belum makan seminggu gini, gue jadi penasaran juga dong.

BurCik: Bubur Ayam Yang Mengubahku

Akhirnya satu mangkok bubur ayam yang paling gue hindari mendarat tepat di meja gue. Di depan muka gue!

You know gak sih, bubur ayam Cikini punya tekstur yang lebih lembut ketimbang bubur-bubur ayam lainnya. Selain itu, waktu gue mengaduk-aduk itu bubur, secara mengejutkan ada surprise dari telur setengah matang yang kuningnya meleleh dengan cantik. Setelah ditambah kecap asin dan lada bubuk, prosesi persiapan makan bubur Cikini lengkaplah sudah. 

Pertama kali sendok berisi bubur Cikini masuk ke mulut gue.. sensasinya… ENAK! LEMBUT! MAKNYUS!!!

Kan. Gue jadi suka bubur ayam kan! *toyor @SiOchoy

Overall, bubur ayam Cikini beda dari bubur ayam biasa. Dilihat dari segi rasa dan tekstur bener-bener beda banget. gak ada kacang. Gak ada kuah-kuah yang becek. Maknyus makjleb pokoknya!

Harganya? Makjleb juga. 18 ribu buat seporsi bubur ayam pakai telor. *pulangnya jalan kaki*

Intinya, kalau mau cobain bubur ayam yang enak, beda, dan MAHAL, silahkan mampir ke Bubur Ayam Cikini.

Dijamin gak bikin nyesel tapi bikin dompet bolong deh…!! #lah

Menggawangi Jalan Pendaki. Hidup berselimutkan komedi.

Related Posts

21 Responses
    1. Udah basi! Aku abis ke Jakarta seminggu lalu. Kalau aku cuma transit beberapa jam di Bandara Soekarno-Hatta bisa anterin buburnya ke Bandara gak Cen? :p *ngelunjak*

  1. retzah

    Ini toh burcik nan mebahana itu? Anehnya sampe skrg lidah & perut gue tetep ga bisa nerima bubur yg teksturnya kayak gambar diatas *langsung muntah*

  2. Ada kalimat yang meragukan nih: bubur ayam Cikini punya tekstur yang lebih lembut ketimbang bubur-bubur ayam lainnya.

    Jadi sebelum BurCik ini udah pernah dong makan buryam? :O

  3. asrilwardhani.com

    sama, saya sampe sekarang belum terlalu suka bubur ayam dan alasannya mirip kayak muntahan…hmmmm…seriusan ini enak?

Leave a Reply