Ganteng Ganteng Pendaki Galau: Jiwa Kelana

β€’
β€’6

~Di dalam pusaranmu
Adakah ruang untuk
Kau dan aku mengarung
Mencari titik temu~

“Waktu gua gak banyak.”

Sepercik air menetes perlahan dari ujung mata. Lantunan syahdu Isyana dan Rara, entah mengapa turut membuat hatiku semakin nelangsa.

“Gua masih takut sama pikiran gua sendiri.”

Sambil terus bergumam, badanku tak henti-hentinya bergetar. Kepalaku tak juga berhenti berputar. Mataku panas, serasa ingin lepas. Ingin rasanya langsung aku cabut jantung yang kurang tau diuntung.

Aku membiarkanmu berdetak, tapi tak sekencang ini, keparat!

“Apa gua mati sekarang aja ya mendingan?”

Perasaan berkecamuk, pikiran-pikiran buruk, pandangan mata yang kian ambruk, mewujud jadi halusinasi paling brengsek: kegagalan laten dan mantan yang jadi manten.

“Fix, gua mati aja!”

***

“Jadi, mas Kelana, ya? Silahkan mas, ada keluhan apa?”

Aku gak takut mati. Tapi, di antara kacaunya pikiran-pikiranku yang terus-terusan minta aku mati, terselip keinginan bertemu profesional lebih dulu, baru mati kemudian.

“Saya depresi dok. Eh…”

Mulutku ternyata sama terkejutnya dengan otakku. Kenapa mendadak mudah sekali bilang depresi?

“Saya capek sama diri saya sendiri dok. Saya capek sama kegagalan hidup saya. Kayaknya apa yang saya bikin semuanya gak ada yang berhasil.” ujarku sambil bergetar. Berusaha membuat bendungan agar tak meluap air mata.

“Tapi mas tau darimana kalau mas ini depresi? Bisa jadi mas Kelana lagi capek aja, lho,” sambut dokter Irene sembari menatapku lekat-lekat.

“Saya sempet kepikiran bunuh diri. Sering malah.” jawabku lugas. Lagi-lagi aku kaget, kenapa semudah ini mengatakannya?

“Okay mas, luapkan saja semuanya. Jangan ditahan. Mas udah bener dateng ke saya….”

“Saya pikir, kami bakal menikah dok…. tapi…. pacar saya…..”

***

“Han, happy annive ya! Seneng banget sayang, sampe juga kita 5 tahun pacaran haha. Nikah yuk?”

Aku masih ingat momen ini. Dimana aku sudah mempersiapkan hatiku, mentalku, dan semua keromantisan yang aku punya demi untuk melamarmu, Jihan.

Sunrise di Pananjakan Bromo jadi saksinya. Saat aku diam-diam perhatikan kamu, sumringahnya senyummu menyambut matahari meski dingin merasuk sampai ke tulang, kamu yang selama ini selalu aku banggakan dan harapkan mendampingiku sampai lanjut usia kelak.

Lalu aku memelukmu.

Merayakan kebersamaan kita yang lagi lucu-lucunya. 5 tahun itu masih balita lho. Masih banyak momen yang bisa kita ukir bersama di tahun ke 6, ke 7, ke 8, sampai kakek-nenek.

Lalu kamu perlahan melepaskan pelukanku. Sambil tersenyum kamu bilang,

“Kelana, ini bakal berat… tapi…”

Mendadak kamu terisak. Aku mencelos. Aku tahu ini akan kemana. Aku marah. Boleh kan aku marah?

“Kelana… maafin. Aku gak bisa ngelanjutin ini. Aku jatuh cinta sama orang lain…”

***

“Harusnya mungkin sekarang kami sudah punya anak dok….” ujarku semakin terisak, flashback soal luka yang aku dapat dari Jihan.

“Tapi mas, udah satu tahun lebih sejak mantan ninggalin mas, harusnya mas bisa lebih kuat, kan?”

Dokter Irene benar. Seharusnya aku sudah lebih kuat. Pada kenyataannya tidak. Aku cupu banget.

Gaya hidupku memburuk. Alkohol bukan satu-satunya sahabat baruku. Menghapus 1.852 hari bersama Jihan rupanya tak semudah mabuk tiga hari berturut-turut. Atau berjalan 5 hari 4 malam di gunung Argopuro sendirian.

“Harusnya dok. Tapi… Jihan segalanya buat saya dok…” lintasan kenangan bersamanya bikin hatiku tersayat lagi.

“Saya jadi nyesel dok. Saya tuh kayak nganterin dia ke jodohnya. 5 tahun saya bareng-bareng sama dia. LDR kami jalanin bersama, baik-baik aja. Saya pulang pergi ke kotanya, saya ada di setiap momen dia ingin marah, dia ketawa, dia ingin makan dimsum kesukaannya, dia bersedih karena belum dapat kerjaan, sampai dia dapat kerjaan yang dia mau dok. Saya ada di sisinya….”

“….tapi, kenapa dia semudah itu jatuh cinta sama teman sekantornya dok? Kenapa? Kurang saya apa, dok?” rasa sakit ini kembali menjalar tak terkendali.

“Coba saya larang dia kerja di kantor itu ya dok… coba saya….”

“Mas Kelana, kurangnya cuma ikhlas.”

“Ikhlas kalau memang mba Jihan bukan jodoh mas. Ikhlas atas semua yang mas lakukan demi mba Jihan sudah jadi masa lalu. Ikhlas kalau mas udah gak sama mba Jihan lagi sekarang.” jawab Dokter Irene klise. Ya, ya, aku tahu, yang klise ini memang banyak benarnya.

“Mas Kelana ada hal yang disukai? Hobi misalnya?” tanya dokter Irene.

“Ada dok, dulu saya suka naik gunung. Tapi semenjak putus, saya gak pernah naik gunung lagi. Udah gak menarik perhatian saya dok.”

“Wah itu bagus. Coba lagi mas hobinya dijalankan ya. Lalu kurangi konsumsi alkoholnya. Selama mas masih sering minum, depresi mas gak akan sembuh….”

“Tapi dok…”

“Ini saya kasih resep obat yang lebih manjur tapi harus habis dalam waktu dua minggu. Lalu balik ke saya lagi setelah obatnya habis. Dan saya mau kasih PR ke masnya… mau ya dikerjain?

“Tapi saya….”

“PR-nya, mas setiap hari harus tulis hal-hal apa yang mas ingin capai, hal-hal baik apa yang ada pada diri mas, juga, sebelum ketemu saya lagi, mas harus naik gunung sekali aja….”

“Baik dok….”

***

~Aku sudah mulai lupa
Saat pertama rasakan lara
Oleh harapan yang pupus
Hingga hati cedera serius~

“Pak Kelana…” sayup-sayup terdengar suara suster memanggil namaku, melengking, menerobos masuk lagu Terlatih Patah Hati dari The Rain yang sedang kunikmati.

Aku melangkah masuk, tersenyum ramah kepada dokter Irene yang tengah menungguku. Menyalaminya, dan berkata:

“Saya baru turun dari gunung Semeru, dok…”

End.

Ps:
Cerita ini hanya fiktif belaka.

Menggawangi Jalan Pendaki. Hidup berselimutkan komedi.

Related Posts

6 Responses

Leave a Reply