#30HariKelilingGunung: Cerita Hujan Gunung Lemongan

Lanjutan Day 2, Rabu, 23 Januari 2019

Sembari merencanakan pendakian besoknya ke Gunung Lemongan di Lumajang (cancel Gunung B29), gua dan Pradikta menyusuri kota Surabaya di malam harinya…..


….berwisata kuliner. Mumpung cuaca lagi terang-terang bersahabat tanpa hujan atau angin.


Gua norak banget serasa jika aku menjadi vlogger kuliner. Dari #30HariKelilingGunung jadi #30HariKelilingMakan.


Asli, dimulai dari Tahu Tek Pak Jayen yang otentik dan berasa banget petisnya, dilanjut Sate Klopo Ondomohen yang rasanya ‘beda’ mantul banget buat mengisi perut di malam hari. Udah gitu emang katanya makanan-makanan tadi adalah bestnya lokal Surabaya.

Enak juga ya jadi vlogger/blogger kuliner, tinggal mangap dan ngunyah. Pas bayar doang gak enaknya. 


Ditutup dengan lumernya Banana Split Es Krim Klasik Zangrandi, yang nempel banget di mulut, #30HariKelilingMakan berakhir. 


“Mantul! Langsung hubungi cus!” 


Meski susah sinyal, akhirnya gua berhasil hubungin mas Puthut, yang besok bakal ngejemput di Klakah.

Habis ngobrol sana sini, mendadak dia bilang: 
“Permisi, mas yang punya blog ini?”
“KOK TAU?” *ngegas*


Day 3, Kamis, 24 Januari 2019

“Mas, bangun yok, udah jam setengah 4!” seru Pradikta.


Sebenernya, setelah gelisah tidur gak nyenyak, kebiasaan mau pergi-pergi, ditambah bolak-balik bunyi alarm sampe jam 3, gua praktis cuma berasa tidur sejam-dua jam. 


“Lho, tasku kok bolong… semalem kayaknya gak…” ujar Pradikta cengo.
Hah?
“Lho.. plastiknya kok rusak…” lanjutnya.
Hahh?
“Lho… rotinya dimakan tikus!” 


HAAAAAHHH???


Asli, ini Pradikta kasian banget keril gemasnya jadi bolong gara-gara nyimpen logistik terus dikeratin tikus. Gua antara bingung mau sedih atau ngakak liat dia bengong sedih sembari ngumpulin nyawa.



Sesampainya di Terminal Purabaya – Bungur Asih dan naik patas yang rupanya seharga 70k per penumpang langsung bikin gua menghitung budget.


Mulai dari pertama dateng ke Surabaya, kulineran, sampai transportasi.

Ternyata semua di luar budget yang udah gua tentukan. Untung gua nginep di rumah Pradikta jadinya praktis gua gak perlu bayar penginapan. 
Selain budget gua juga jadi ngitung seberapa siang gua bakal sampai lemongan, berapa lama bakal nanjak, hujan gak, bakal telat gak, haduh gua gak boleh extend di Lumajang, tiket kereta ke Banyuwangi udah keburu dibeli, dll dkk.


Sembari bis melaju kekecewaan gua menjadi-jadi. Bawaannya pengen sambat mulu. 


Tapi terus terpikir:


Gak semua hal bisa berjalan sesuai ekspektasi. Dalam perjalanan, bukankah justru serunya pengalaman ini yang dicari?

Acen

Lalu kekecewaan gua mereda dan bisa tidur nyenyak sepanjang perjalanan menuju Klakah setelah menyeruput #niatmurnisetiaphari Bear Brand.

Sesampainya di Lumajang, kami sudah dijemput Putut Adhit, dari @gunung_lemongan. Anak muda berusia 20 tahun yang wow kok gede amat ni anak, jadi gua yang kek bocah imut-imut menggemaskan.


Putut dan temannya, Mas Mahmud–yang waktu kali pertama kenalan ngakunya bernama Alex, nganterin kami menuju basecamp Gunung Lemongan, tapi sebelumnya mereka keukeuh pamerin rupa-rupa Ranu yang ada di sana. 


Dan surprisingly… RANUNYA KEREN-KEREN BANGET!


Habis dari Ranu Klakah yang mirip versi mininya Ranu Kumbolo, kami langsung persiapan tektok Gunung Lamongan: bawa cemilan seadanya, bawa air secukupnya, bawa tas imut, dan kamera tak lupa.


“Mau coba bawa mas? Bawa aja udah.” kata Puthut waktu liat gua mainin motor trailnya. Awalnya gua meragu, tapi, waktu dikasih kuncinya, kenapa gak coba aja kan dari dulu emang pengen coba. And it was super cool!

Jadi, setelah base camp Pak Ilal, tempat biasa para pendaki memulai pendakiannya. Kami lalu diajak ke base camp Laskar Hijau, yaitu base camp di tengah hutan sebelum pendakian sebenarnya.

Sambil ngos-ngosan nanjak, Puthut, dengan kerennya, cerita soal kenapa dibikin Laskar Hijau. Awalnya gua gak engeh, tapi meski menggeh-menggeh lama-lama cerita Puthut menarik untuk disimak.

“Jadi, waktu itu Pak Ilal pernah disangka ada main sama salah satu istri gerombolan ‘musuh’ kami itu.” kata Puthut

“Hah? Serius anjir, kayak sinetron! Musuhnya siapa sih?”

“Ya itu tadi mas, orang-orang yang nanem sengon di Hutan Lindung itu. Sebenernya gapapa sih nanem sengon, asal jangan di Hutan Lindung.”

“Pak Ilal, saya, sama relawan laskar hijau yang sering jadi bulan-bulanan warga. Pernah itu base camp juga diancurin, pohon-pohon alpokat ditebangin. Serem…”

“Jadi kayak gesekan warga gitu, Put?”

“Iya mas…”

Gua, sekali-kali seumur hidup baru mendengar cerita langsung soal gesekan warga. Di satu sisi, ada warga seperti Puthut dan Pak Ilal yang sadar lingkungan betapa pohon Sengon yang ditanam warga jadi sumber kerusakan lingkungan di masa depan (karena pohon sengon rupanya bikin tanah jadi gak subur dan gak bisa nyerap air).

Tapi sementara, warga lainnya menganggap apa yang diperjuangkan Puthut dkk justru memutus rantai rezeki mereka. Sebagian warga sebal sama aksi heroik Laskar Hijau, sebagian lagi sadar dan jadi relawan Laskar Hijau.

Sebagai orang asing yang mendengar cerita dari Puthut, gua jadi sadar, betapa pengetahuan gua sangat kurang soal konservasi alam, birokrasi yang merugikan alam, hingga oknum-oknum yang ingin menguntungkan dirinya sendiri.

Gua gak bisa berbuat apa-apa kecuali membagi kisah Puthut ini ke kalian. Katanya, kalau mau bantu, Laskar Hijau juga siap menerima dukungan untuk bikin Sekolah Gunung agar para pendaki ala kadarnya kayak gua ini, bisa lebih paham soal lingkungan. Informasi lebih lanjut, langsung kepoin aja:

Gunung Lemongan rupanya punya beragam kisah menarik, mulai dari gesekan antar warga tadi sampai medannya yang yalord tolong. Buat gua, gunung ini nanjak terus tanpa ampun. Katanya: siap-siap bang, itu gunung kecil-kecil cabe rawit. Cih, tidak bagi gua,

Gunung Lemongan itu kek boncabe level 97,5, bikin mulut lemes dan perut mules yang cuma bisa diobatin pake Bear Brand seember. Nyebelin banget ya Tuhanku tanjakannya gak kelar-kelar!

Berangkat sejak pukul 9.30 pagi, dari cerah-cerahnya langit, sampai gelap-gelapnya udara sekitar.

Meski capeknya gak masuk akal, sesampainya di Pos 4 – atau yang sering disebut pos guci, karena ada air yang menetes dari akar dan ditampung di guci, jiwa jadi seger lagi…

…meskipun menuju puncak ya sebel lagi wkwk!

Setelah 4,5 jam nanjak non-stop, akhirnya sampai ke puncak juga. Brengseknya, begitu sampai langsung disambut kabut dan hujan. PLIS DONG MAAFKAN DOSA-DOSA MASA LALU KAMI *nangis dalam dekapan kabut*

View this post on Instagram

DAY 4: #30HariKelilingGunung Hai, saya kembali wkwk Sembari menuju Banyuwangi, gua cerita dikit soal pendakian #GunungLemongan kemaren. Perjalanan hari ke-3 entah mengapa jadi punya tema: Manajemen Ekspektasi. Mulai berangkat dari Surabaya kesiangan, otw ke Lumajang dibikin drop sama ongkos bis yang over-budget, sinyal babay sejak masuk beskem, lanjut pendakian Gunung Lemongan yang wow ini kata siapa sih kecil-kecil cabe rawit? Ini tuh boncabe level 97 tauk! Capek akutu pengen nyerah padahal masih ada 27 hari lagi 😭😭😭😭 Awal-awal mendaki cerahnya bukan main, medan Gunung Lemongan yang nanjak terus gak pake ampun juga gak berasa-berasa amat. Apalagi pemandangan yang majestic mantul abis. Begitu turun… …mana ada gunung yang turunnya lebih lama dari naiknya? Gunung Lemongan doang! Gila, kami nanjak 4.5jam sampe puncak udah sama istirahat, turunnya 6jam minim istirahat. Dihajar hujan pula! Seru sih, naik gunung ujan-ujanan, kalau udah lewat tapi. Kalau pas lagi kejadian, akutu rasanya kayak Mariah Carey lagi nyanyi sembari nangis tipis-tipis namun disamarkan oleh derasanya air hujan: …i can make it through the rain… HUWOW becek semuanya! Saat semua pikiran buruk berkecamuk, saat semua rencana tak berjalan sesuai ekspektasi, tiba-tiba gua diingatkan lagi: "hey, bukankah inilah bagian serunya dari sebuah perjalanan?" So, sampai jumpa di Banyuwangi! Ps: Thanks telah menemaniku @setapakkecil @gunung_lemongan Backsound: JR JR – Gone #thisisindonesia #explorelumajang #jalanpendaki #exploregunung #indovidgram #travelgram

A post shared by Acen Trisusanto (@acentris) on

Setelah puas foto-foto dan kedinginan berkat hujan di Puncak Lemongan yang tak kunjung reda, kami langsung cabs aja turun. Di sinilah perjuangan sesungguhnya rupanya dimulai.

Kalau pendakian gunung pada umumnya turun gunung lebih cepet daripada turunnya, hal ini gak berlaku di Gunung Lemongan (bagi kami).

Demi apapun, dari nanjak cuma 4,5 jam, ini turunnya makan waktu 6,5 jam! Selain hujan lebat selama 4 jam bikin pergerakan jadi terhambat, medan terjal berbatu Gunung Lemongan jadi makin licin. Gak ada tuh bonus-bonusan di Gunung Lemongan. Semakin ke atas semakin nanjak, semakin turun ya semakin terjal!

Dimulai dari sambat, kaki normal jadi lecet-lecet, Puthut yang udah mulai ilang-ilangan, Pradikta yang sol sepatunya mulai lepas satu per satu, sampai saking putus asanya, kami jadi karaokean kenceng banget sambil jalan. Toh saat itu Gunung Lemongan cuma milik bertiga.

Dengan energi tersisa cuma dari roti dan ciki-cikian seada-adanya, tepat jam 7 malam kami sampai di base camp Laskar Hijau dengan badan super basah diterjang hujan yang tak kunjung reda. Harapan kami bakal balik ke base camp Pak Ilal dengan motor tadi… tapi….

“Pak Ilal belum ada di sini mas… mau gak mau kita harus jalan ke bawah sendiri…. soalnya kita udah basah, kalau diem bakalan meriang.”

Puthut benar, kami harus tetap jalan. cuma bisa berpasrah diri.

Saat kaki mulai melangkah pasrah, tiba-tiba….

BRESSSHH

YAELAH UJANNYA MALAH MAKIN DERES DAH!

Menggawangi Jalan Pendaki. Hidup berselimutkan komedi.

Related Posts

Leave a Reply