Kenapa Naik Gunung?

Kenapa naik gunung?

Kalau ditanya kayak gitu, jawabannya bakal banyak banget!

1001 satu alasan. 1001 jawaban.

“Cinta di tolak, keril diangkat”- kayaknya pernah baca di kaskus, menurut gue ini adalah the best answer.

“PDKT gagal, mari bangun tenda dan makan bekal”- ini asli karang-karangannya gue.

“Karena hobby”- pernah denger, sering malah, kayaknya banyak orang yang ngomong, adalah the common answer.

“Karena ngangenin” – adalah the sweet banget answer.

“Because It’s There” – kata Pak George Mallory, pas ditanya Kenapa gunung sik? Kenapa?

Masih banyak lagi. Gue yakin.

Naik gunung itu nyari susah. Loh.
Naik gunung  jauh dari kata nyaman.
Tapi, naik gunung lebih irit biaya. Engg, gue cabut lagi kata-kata gue boleh? *inget harga peralatannya*

Naik gunung perlu persiapan dan perencanaan yang matang. *tapi biasanya melenceng dari jadwal*

Tapi, naik gunung itu memacu adrenalin dan memacu foto-foto.

Naik gunung.

Punya nilai-nilai yang gue gak paham sampe sekarang kenapa ini gue anggap bernilai. Keluar dari zona nyaman, nikmatin alam bebas yang gak biasa gue nikmati di kota. Gue mungkin, atau nyata-nyata udah banyak kehilangan gara-gara naik gunung: uang, kewarasan, waktu, tenaga, berat badan, cinta. #eaaa

Tapi, apa yang gue dapatkan dari naik gunung kemungkinan besar gak bisa diukur dari semua yang barusan gue sebutin diatas, atau bahkan yang kelewat gak gue sebut. Kebanyakan soalnya.

Rasanya gue udah dapet lebih dari uang: temen, iya, temen.

Rata-rata pendaki atau orang-orang yang gue temuin di Gunung itu ramah-ramah dan baik hati. Meskipun di kota gak jarang juga nemuin yang kayak gitu. Tapi di gunung itu beda. BEDA. Ya soalnya, mungkin, kami ngerasa senasib seperjuangan.

Punya satu tujuan. Pulang.

Dan Puncak.

Gak munafik kok, rata-rata yang manjat gunung pasti pengen sampe puncak, tergantung kuat apa gak mental dan fisiknya.

Saling ngasih motivasi, saling bagi-bagi makanan, kentut-kentutan, ceng-cengan, kayak ketemu sahabat yang udah lamaaaaaaa banget, padahal mah baru kenal. Pulang dari manjat, biasanya bakal ngerasa jauh lebih bersyukur karena udah dapet temen baru, gebetan baru, relasi baru, pengalaman baru, foto-foto baru, dan semuanya itu priceless!

Belum lagi napsu makan nambah, memori nambah, foto-foto nambah, cerita-cerita nambah, segala yang buat nyirik-nyirikin temen jadi nambah. Iya, elah, gue mah bukan aktivis ini itu yang bilang kalo naik gunung bukan cuma tentang foto yang bagus, bukan cuma ina itu bla bla bla, ya yang bisa gue share ke temen-temen gue ya cuma itu, mau apa lagi?

Ya gue juga bakalan sirik kok kalo ada yang nyirik-nyirikin. Wajar ah, manusiawi.

Kenapa naik gunung?

Buat gue, karena gue suka. Itu aja.

Kadang, kita gak perlu alasan yang rasional buat suka sama sesuatu kan?

——————————————-

Dengan perubahan sana-sini dari teks asli yang gue bikin pas masih alay di sini.

Menggawangi Jalan Pendaki. Hidup berselimutkan komedi.

Related Posts

39 Responses
  1. Eko Jusmar

    babang gw belum pernah naik gunung,kalo bromo sama tangkuban perahu sih pernah tapi kan gak manjat berjam2 atau ngecamp 🙂 kapan ngajakin gw muncak….

  2. cumilebay.com

    Aku bukan pecinta gunung, selalu aja mengerutu kalo dah jalan mendaki capek. Tp selalu ada rindu untuk kembali, bukan karena hobi tp latah di komporin temen 😉 #jujur

  3. Saat pertama naik gunung hampir setiap orang merasakan home sick ( rindu rumah ) sehingga kadang kita berpikir kenapa naik gunung padahal kita bisa santai di ranjang rumah yang hangat… tapi saat kita sudah turun dari gunung dan melihat gunung itu kembali kita akan merindukannya dan memiliki tekad untuk naik lagi…

  4. naik gunung itu kalo kata ku, bodoh tapi senang…bodohnya perlu waktu dan tenaga yang ga sedikit buat menuju puncak atau gunung itu sendiri, tapi begitu udah ada di puncak, eeh ga lebih lama dr 1 jam deh…tapi walaupun capek, ntah kenpa ada kesenangan yang ga terlukiskan ya ?

  5. dini mukti

    Banyak banget alesan yang ada dikepala waktu ditanya.
    Tapi, jawaban yang keluar ya… Karena aku suka!
    Menurut aku itu mewakili apapun 🙂

Leave a Reply