Penunggu Puncak Ancala

Penunggu Puncak Ancala

Ancala berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya adalah gunung. Persis banget sama kesanisasi pertama perasaan gue sama kata-kata Ancala ini. Statusisasinya pas banget!

Ya, Ancala ini — adalah bagian dari judul project buku pertama gue. Judul lengkapnya adalah Penunggu Puncak Ancala.

Ancala.

An-ca-la.

Semua pasti bertanya-tanya, kan, apa arti kata ini?

HIH. Tanya dong!

Gue sendiri aja deh yang bertanya-tanya.

Awalnya gue disodorin kata-kata yang asing ini buat judul project buku keroyokan pertama gue. Tapi begitu denger kata Ancala, gue kok langsung klik. Kesannya gagah, macho, tattoan, kumisan, jambangan, kokoh, dan kekar kayak daku.

Dan ternyata …

Ancala berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya adalah gunung. Persis banget sama kesanisasi pertama perasaan gue sama kata-kata Ancala ini. Statusisasinya pas banget!

Ya, Ancala ini — adalah bagian dari judul project buku pertama gue. Judul lengkapnya adalah Penunggu Puncak Ancala.

Sinopsis

Aku dan teman-teman penasaran akan keberadaan komplek makam Prabu Siliwangi di puncak Gunung Tampomas. Sesampainya  di sana, perasaanku jadi tidak enak. Ingin rasanya segera kembali ke tenda. Aku merasa… ada yang mengawasi.

Sesosok anak perempuan terlihat mengintip rombongan dari balik pohon. Siapa itu? Kulitnya hitam, bajunya lusuh, dan…. Ah, aku dibuatnya gemetaran, tapi kami saling berjanji untuk tetap diam jika menemukan keganjilan.

Perlahan, anak perempuan itu keluar dari persembunyiannya. Sepertinya tidak ada yang sadar bahwa kami tidak lagi bersepuluh, melainkan sebelas. Karena dia kini mengikuti kami di barisan paling belakang.

Dan…, selama berjalan… lehernya yang hampir putus juga ikut bergoyang….

***

Alam tidak hanya menyuguhkan keindahan, tapi juga menyimpan banyak misteri. Dan ini adalah kisah kami, para pencinta alam yang ingin mengalahkan rasa takut.

Dalam perjalanan mendaki gunung, menelusuri gua, menapaki hutan, kami bersentuhan dengan “mereka”—penghuni alam lain yang membuat nyali ciut. Namun, bagi para petualang, ketakutan harus dihadapi. Sebab, ke mana pun kami pergi, mereka akan selalu mengikuti….

***

The Story Behind

Dulu,

Belum lama-lama amat sih,

Waktu lagi baca buku yang gue beli dan ngerasa kok penulisnya keren amat ya, tulisannya bisa diterbitin di major label terus bermetamorfosis menjadi sebuah buku dan akhirnya sampai di tangan pembaca, yang salah satunya gue, yang lagi mikir kok penulisnya keren amat ya, tulisannya bisa diterbitin…. #rauwisuwis

Dari mikir: “kok bisa si penulis itu mempunyai sebuah karya yang bikin gue ngikik, sedih, sampe bergidik ngeri” sampai akhirnya membuat gue punya asa sendiri buat harus mempunyai karya yang juga bisa dibaca sama orang lain dalam bentuk sebuah buku.

GUE PENGEN PUNYA KARYA! MASTER PIECE!

Sebulan, dua bulan, setahun …

Lewat babang jalanpendaki.com ini, gue bisa dipertemukan sama seorang editor dari BUKUNE, sebuah penerbit major label yang udah menerbitkan buku-buku best seller kayak Life Traveler (Windy Ariestanty), Rasa Cinta (Roy Saputra, Ariev Rahman, dkk), My Creepy Diary (Ayu Chintiami), Buku Kevin (Kevin Anggara), Koar Koar Backpacker Gembel (Takdos), dll, dkk.

Dari editor ganteng itu, gue kemudian ketemu sama 4 penulis (baru) lainnya dan akhirnya meeting sana sini demi mencetuskan sebuah ide brilian untuk sebuah project buku.
Akhirnya, ide brilian itu datang.

JENG–JENG–JENG

“Genrenya horror ya, tulis pengalaman serem apa yang lo pernah rasain waktu lo mendaki atau bertualang.” kata si editor ganteng sambil ngibas rambut.

Bagai petir di siang bolong menyambar celana yang bolong pas diselangkangan, gue yang penakut ini gak ngerti lagi harus bilang apa. Cuma bisa mengiyakan saking gue udah kebeletnya pengen pamer-pamerin nama dan tulisan gue ada di buku gue sendiri (meskipun masih main keroyokan).

Pelan-pelan gue mengorek lagi kenangan manis ketemu yang bukan-bukan di saat mendaki gunung. Mulai dari gunung Merbabu sampai Rinjani. Mulai dari nulis dengan happy di siang hari sampai gue akhirnya ngeri sendiri pas nulis di malam-malam sunyi.

Now Available

Nulis horror itu serem, gan!

Tapi akhirnya tulisan gue kelar juga. Meskipun pada akhirnya melewati masa-masa editing yang cukup menguras perhatian gue karena…. ‘duh, tulisan gue kok masih sampah begini ya…’

Biasa, orang-orang dalam naungan zodiac virgo emang perfeksionis, gak mau setengah-setengah. Jadi yang gue lakukan ya nulis-edit-nulis-edit-nulis-edit. Sampai akhirnya merasa cukup yakin buat gue kasih ke editor.

But finally, perjalanan panjang berbulan-bulan buat akhirnya bikin tulisan-tulisan lepas dari gue dan keempat teman menulis lainnya berhasil menjadi sebuah buku yang sekarang udah mejeng dengan cantik di rak-rak toko buku Gramedia, Gunung Agung dan toko buku lain kesayangan kamu.

Yap!

Buku Penunggu Puncak Ancala udah siap berpindah tangan dari pajangan rak toko buku, sampai ke tangan kamu dan juga siap dipajang di rak buku kesayangan kamu.

Menggawangi Jalan Pendaki. Hidup berselimutkan komedi.

Related Posts

32 Responses
  1. Hiiiyyyy….
    Ini baru sinopsisnya yaa 😀
    Gimana kalau baca sampai habis?? 😀
    Semoga sukses ya! Sesukses dirimu membuatku merindingggg dan bergidik :S

    Wah, top markotop deh mas 😀
    oh ya, mas, bagi tipsnya dunk kalau mau nerbitin buku yang temanya fiksi atau kisah-kisah gitu gimana tahapannya?
    apa aja yang perlu disiapin?

    terima kasih… 😀

    1. Hai! Makasih yah udah mampir. Gak serem-serem amat kok. Serius deh. Makanya beli. :3

      Bisa kok, asal punya naskahnya, trus kirimin ke penerbit yang kamu mau aja. Terus bersabar dan berdoa!

      Tetap berkarya! :3

  2. Naik gunung tanpa cerita mistis itu kurang afdol. Mulai dari mata merah, bayi nangis dll. Tapi dulu waktu denger/ngalamin yang aneh2, disuruh diam aja ama senior. Jadinya heboh sendiri nahan takut 😐

  3. Lalu Ahmad Hamdani

    wah gebrakan! travel writing tema horor inihhhh, , , sialan, , , gue kok kagak kepikiran sampai kayak gini yah? siaallll, , , mantab gan, , ,pesen di urutan pertama. pengalaman beginian gua juga mah banyak, tapi pikiran gue terlalu meinstreem <—– bener yak tulisannya? kompilasi ke dua. ajak2 ya wakwakwakwakwak. . .

  4. wah genre baru buat para pendaki nih, mantab !!
    btw oom bagi – bagi resepnya dong biar bisa nerbitin buku gini, trus gimana prosesnya bisa dapet proyek keroyokan gini ?? *penasaran*
    doakan saya juga yah, lagi berjuang nyusun naskah buat ke B*k*ne nih, hehe

    sukses oom acen !

  5. cumilebay.com

    Kata2 di bahasa sangsekerta itu mempunyai arti yg sangat mendalam, pantes orang jawa2 dulu selalu memberi nama anak2 nya dari kosakata bahasa sangsekerta.

    Btw semalam harus nya foto bareng + minta tanda tangan ama penulis buku yg satu ini waks100x

  6. Anonymous

    wah jadi keingat waktu mendaki ungaran dulu, saat2 pertama mendaki malah ada kejadian HP ilang segala alhasil tu HP NAAS jatuh dari atas pohon saat itu kondisi gelap di tengah hutan, malah curhat, wkwkwkwk, lagi cari buku ni buat saya baca gan

Leave a Reply