#30HariKelilingGunung: Kembali Ke Gunung Penanggungan

Sebelumnya di Sendirian Jelajah Gunung Panderman;

Dari yang biasa aja, mendadak suasana jadi super gloomy dan creepy. Tiba-tiba ada suara-suara gemerisik alam yang terasa mengganggu.

Pas gua kembali tersadarkan kalau gua sendirian….

…gua langsung ngibrit turun gunung tanpa berhenti.

KENAPA SIH HEY DUA HARI INI DIBIKIN LARI-LARI MELULU CAPEK AKUTU HUHU.

DAY 10, Kamis, 31 Januari 2019

Hari ini sebenernya merupakan hari pengganti dari rencana-rencana gua sebelumnya. Setelah pendakian Gunung Butak dan Gunung Panderman, seharusnya gua lanjut ke Gunung Wilis atau Gunung Kelud.

Tapi begitu mendengar temen gua bilang Gunung Penanggungan finally buka, turun dari Gunung Panderman kemarin langsung cus balik ke Surabaya dan tektokan sama Pradikta buat kembali ke Gunung Penanggungan.

Surprisingly, pagi ini Surabaya tak hujan seperti biasanya. Jadi gua sama Pradikta bisa santai menuju Mojokerto menyambangi Gunung Penanggungan.

Tapi belajar dari visit pertama Gunung Penanggungan kemarin, gua sama Pradikta memutuskan buat gak berangkat tengah malam dan sok-sokan nyari sunrise. Yea, i’m not good with sunrise wkwkw. Kesiangan bae dah.

Impresi pertama gua soal Gunung Penanggungan adalah…. BANYAK NYAMUK! wkwk

Gua jadi keingetan sama Gunung Munara, tipe-tipe awal pendakian gak terlalu jauh berbeda. Via jalur Tamiajeng, Trawas, pendakian dimulai dari warung-warung di deket base camp yang jumlahnya lumayan banyak.

Sebelnya, padahal sampai sana gak terlalu pagi lho, masih jam 7an. Tapi warung masih tutup, wc masih tutup, cuma mamang-mamang parkir aja yang masih buka. Mana gua kebelet pup.

“Mang, saya boleh pup di kebon-kebon sini ga?” ungkap gua gak tahan. Anjrit dari sekian banyak warung yang ada wc-nya semuanya digembok. Mana pertahanan udah bakal jebol in no time.

“Boleh silakan.”

Kemudian gua lari dan langsung menyapa tanah yang gua gali seada-adanya. Anjrit, nostalgia gini boker di alam wkwkw.

Meski panggilan alam masih belum tuntas, gua harus sudah menghentikannya. NYAMUK ELAH BIKIN PANTAT GUA BEDARAH NIH BIKIN

Habis berak bersama nyamuk, gua dan Pradikta langsung melanjutkan perjalanan sambil garuk-garuk. Hyak ampun, padahal udah pake baju ya, tapi itu nyamuk ngerubung lho banyak banget.

Gua jadi menyangsikan, Penanggungan ini sebenernya gunung apa kebon?

Jalan sebentar sambil ngobrol dan tepok-tepok tangan, pas ngelirik sebelah kanan ternyata ada warung lain yang udah buka…. beserta wc-wcnya… gua kayak.. wow, untuk apa aku berak di kebon tadi? *cry

Tapi gapapa deh, tetap bersyukur berak di kebon daripada di tebing

Trek Gunung Penanggungan menuju pos 2 rupanya masih sans banget. Cuma jalur bebatuan makadam yang menurun, lempeng, nan sepi. Persis kayak kebon lah ya.

Bahkan sampe puncak bayangan juga menurut gua gak terlalu berat. Memanglah cukup santai, tapi panjang aja. Ini yang mungkin bikin pendakian Gunung Penanggungan makan waktu lama kayak waktu ke Gunung Lemongan.

Gua gak tau kalau Gunung Penanggungan lewat jalur lainnya, tapi via jalur Tamiajeng-Trawas ini, jujur aja gak ada hal spektakuler yang membekas di hati gua.

Malahan, gua sama Pradikta jadi curhat-curhatan soal mantan, kehidupan pekerjaan, sampai rencana-rencana berikutnya dari pos 1 menuju pos bayangan, saking gak berkesannya.

Sesampainya di pos bayangan dan disambut segitiga sama kaki setengah puncak Gunung Penanggungan, gua baru kayak, waw!

Nah, dari puncak bayangan menuju puncak gemilang cahaya ini yang bikin dengkul lumayan insyaf. Jalurnya bebatuan di tengah-tengah lereng gunung yang terbuka.

Jujur aja ya, pemandangan dari sini jauh lebih mantul ketimbang dari pos pertama. Mungkin, kalau gua ngecamp, i will love Gunung Penanggungan pada malam hari.

Next, gua pengen datang ke sini lagi buat ngecamp dan ketemu sunrise. Gua rasa bakalan keren banget deh!

Selain bikin dengkul insyaf, rupanya, dari puncak bayangan menuju puncak sejati Gunung Penanggungan juga bikin jantung deg-degan. Ya karena pemandangannya super keren, karena ada elang lagi nyamber-nyamber makanannya, ada kabut yang ilang nimbul, dan…

MASYA ALLAH INI KENAPA GA SAMPE-SAMPE YAK! GEMPI CAPE TAU! #savegempi

“Ayok mas sebentar lagi.” seru Pradikta menyemangati gua yang sedang patah.

Gua gak tau kenapa ya, apa karena kalau dihitung hari ini, artinya gua mendaki 3 hari berturut tanpa henti, apa karena gua udah kebawa males-malesan aja sejak nanjak dari pos 1 yang super nyante itu.

“Seberapa sebentar?” jerit gua yang lumayan tertinggal jauh dari Pradikta.

“Ini abis batu ini, masih ada bukit lagi lah dikit…” jawab Pradikta santai.

Anak setan, gini nih yang namanya pendaki, bilang dikit-dikit taunya beneran masih satu bukit.

Tapi, seninya naik gunung ya gini, secapek apapun, kalau terus dijalanin nanti bakalan sampai puncak juga.

“Mas, PUNCAK!”

Muka gua sumringah, mau lari tapi lelah. Akhirnya gua tetap berjalan langkah demi langkah untuk mencapai asa #30HariKelilingGunung di Gunung Penanggungan.

Sesampainya puncak gua ngebatin:

“…sampai jumpa lagi Jawa Timur, terima kasih telah memberikan gua perjalanan epik selama 10 hari terakhir ini….”

SAMPAI JUMPA, JAWA TENGAH!

Menggawangi Jalan Pendaki. Hidup berselimutkan komedi.

Related Posts

Leave a Reply